Translate

Selasa, 23 September 2014

Link For Lastest Education's hot Issues

Berbagai Link mengenai isu pendidikan terkini

1. http://www.education.com/topic/current-education-issues/

2. Current Issues in Education (CIE) is an open access peer-reviewed academic education journal sponsored by the Mary Lou Fulton Teachers College of Arizona State University. This journal is produced by ASU graduate students and publishes articles on a broad range of education topics that are timely and have relevance in the field of education (pre-K, K-12, and higher education) both nationally and internationally. We seek scholarship that tackles issues facing our field at new levels and in new ways. (http://cie.asu.edu/ojs/index.php/cieatasu)

3. Independet http://www.independent.co.uk/news/education/education-news/


4. Education Week  http://www.edweek.org/ew/issues/


5. Assosiation of American Colleges and Universities http://www.aacu.org/liberaleducation

Rabu, 06 November 2013

Pengguna Internet di Indonesia dan Anak anak yang kehilangan masa kanak kanaknya.

Saat ini traffic terbesar internet dunia berasal dari Asia yaitu sebesar 44.8%, di susul dari daratan biru Eropa 21,5%, North America 11.4%, Lat Am/Caribb 10.4%, Africa 7.0%, Timur Tengah 3.7% dan Oceania/Australia 1.0%. Sumber (http://www.internetworldstats.com/stats.htm). Apabila kita amati lagi traffic terbesar yang berasal dari Asia ternyata di duduki oleh China 538 juta user , India 137 juta user, Jepang 101.2 juta user dan disusul oleh Indonesia dengan 55 Juta user. Penetrasi internet Indonesia terbilang besar karena dari 220 juta penduduk, pengakses internet yang berasal dari Indonesia hampir mencapai 25% atau 1 dari 4 dari penduduk Indonesia mempunyai akses Internet. 
Facebook, twitter, dan aplikasi sosial media lainnya sudah barang tentu sangat akrab di masyarakat Indonesia, data dari Internetworldstats mengatakan pengakses Facebook dari Indonesia termasuk dua besar di wilayah Asia yaitu 51 juta setelah Cina dengan 62 juta. Jadi apabila diambil kesimpulan sederhana, 92,7% pengguna Internet di Indonesia mempunyai akun di facebook. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila facebook menjadi sarana yang sangat penting untuk berkomunikasi, disamping mengasyikan, komunikasi dengan facebook juga realtime. Bahkan ada pendapat yang mengatakan kehidupan di Facebook menurut orang Indonesia sudah seperti kehidupan real, "masyarakat" Indonesia di Facebook berbagi apa saja tentang diri mereka, dari status tentang kegiataan sehari hari, foto, obrolan yang memang mempresentasikan sebuah kehidupan. 
Segala fenomena kehidupan seperti tolong menolong, curhat, sampai dengan modus  kejahatan pun ada di dunia facebook, tidak jarang kita temui orang bertengkar hanya karena status facebook. Benarlah pendapat Albert Einstein yang mengatakan Aku khawatir bahwa kehidupan maya akan mengalahkan kehidupan nyata. Coba lihat sekeliling kita, anak anak kita lebih akrab dengan istilah istilah "kepo", "Lebay", "Cemungud Cemungud" dan istilah istilah yang lainnya, akan tetapi mereka asing dengan cara bergaul dengan dunia nyata mereka dan cenderung mulai membawa istilah dunia maya ke pergaulan nyata mereka. Anak anak sekarang tidak merasakan senangnya bermain di tengah sawah mencari belut, bermain di sungai mencari udang menggunakan "Piti" (wadah yang terbuat dari bambu) dan dipasangi bekicot sebagai umpan, dan menggunakan seser untuk mencari ikan dan dibakar di tepi sungai, mereka lebih asyik bermain Point Blank, ayodance, warcraft dota atau lost saga yang di dalamya terdapat banyak adegan kekerasan. Sangat memprihatinkan, saya tunggu saran anda apa yang sebaiknya anak anak kita lakukan agar tidak kehilangan masa kanak kanaknya di kolom komentar. Salam. 

Kamis, 24 Oktober 2013

Pelajaran Tentang Pendidikan Karakter (Mau Mendengar dan Menerima Kritik)

Hari ini kamis malam jumat seperti biasanya saya dan beberapa pelajar di Technische Universitat Dresden yang berasal dari Indonesia melaksanakan pengajian yasinan yang disambung dengan makan malam bersama dan sharing ilmu. Salah satu materi yang cukup menarik kami bahas di forum tersebut, salah satu issue yang kami bahas adalah mengenai "Nasihat berbentuk Teguran".
Kami mengumpamakan ada 2 orang sebut saja si A dan Si B, sedang berada di hutan, Si A tidak membawa tongkat dan si B membawa tongkat, ketika berada ditengah jalan tiba tiba Si A mendorong si B sampai terjatuh dan si B pada waktu jatuh tidak mengetahui alasan kenapa dia dorong oleh si A. Alasan si A mendorong si B adalah karena di samping si A ada ular yang siap mematok si B, dan akibat dari dorongan yang dilakukan oleh Si A , maka si B pun terhindar dari patokan ular berbisa yang matikan.  
Ada 2 potensi permasalahan yang bisa ditimbulkan dari cerita tersebut, yaitu si B di patok ular berbisa yang mungkin saja mengancam nyawanya, dan si A yang berpotensi untuk di pukul  tongkat oleh si B secara spontan, karena si B tidak / belum tahu alasan kenapa si A mendorongnya hingga terjatuh. Akan tetapi tindakan yang dilakukan oleh Si A menyelamatkan jiwa si B.  Dari hal itu kita bisa analogikan dalam kehidupuan, seringkali kita di nasihati berupa teguran oleh orang lain, dan kita secara alamiah akan melakukan denied (penolakan) terhadap teguran tersebut, yang apabila kita pikirkan lagi dengan pikiran yang jernih, nasihat yang berupa teguran yang sangat keras membawa kebaikan kepada diri kita untuk menjadi lebih baik. Oleh karena itu, apabila kita menerima nasihat, teguran atau kritik yang sangat keras sekalipun kita harus bersyukur, karena orang lain melihat diri kita sebagai orang yang "perlu diselamatkan" dari keburukan, jangan selalu memandang nasihat, teguran atau kritik sebagai salah satu bentuk kebencian mereka kepada diri kita, tetapi pandanglah sebagai bentuk kecintaan mereka kepada diri kita. Salam.

Senin, 21 Oktober 2013

Sikap Mental Tidak Gampang Menyerah



Video berikut mungkin terasa sangat menyentuh kita sebagai insan pendidik, tapi cobalah lihat lebih dekat, dengan kondisi sungai yang berdebit tinggi, jembatan yang rusak, anak anak kita masih mempunyai dorongan yang sangat kuat untuk berangkat ke sekolah meskipun nyawa taruhannya, bayangkan saja ketika jembatan runtuh sementara anak anak masih bergelantungan di jembatan tersebut. Andaikan anak anak kita tersebut diberikan fasilitas yang memadai untuk ke sekolah, bisa dibayangkan hasil yang akan kita dapat dengan semangat seperti anak anak itu. 



Tujuan Kurikulum



Seperti yang sudah saya bahas di tulisan saya sebelumnya yang berjudul Teori Kurikulum bahwa salah satu element dari kurikulum adalah purposes atau tujuan. Menurut Lattuca & Stark (Lattuca & Stark, 2009) di dalam buku yang berjudul Shapping The College Curriculum bahwa tujuan kurikulum ada 3 macam yaitu meningkatkan knowledge, skill dan attitude. 
Knowledge adalah pengetahuan mengenai alat tertentu, baik mekanis maupun fungsi, skill berkaitan dengan penguasaan bidang atau alat tertentu, sedangkan attitude adalah sikap mental untuk mempelajari sesuatu. Untuk lebih mempermudah memahami knowledge, skill dan attitude akan saya ilustrasikan dengan penguasaan knowledge, skill dan attitude di bidang perangkat keras (hardware)  komputer.
Seseorang dikatakan mempunyai knowledge tentang perangkat keras (hardware) komputer apabila orang tersebut memahami fungsi bagian bagian perangkat keras dari komputer,   sebagai contoh memahami fungsi dan cara kerja prosessor, RAM, Harddisk dan cara kerja bagian bagian yang lainnya dari komputer tersebut atau memahami kerja perangkat lunak. 
Seseorang dikatakan mempunyai skill hardware komputer apabila orang tersebut bisa meningkatkan dan memperbaiki bagian dari komputer, misal memperbaiki dan meningkatkan performa prosessor, RAM, Harddisk dan perangkat keras  lainnya yang rusak, Sedangkan attitude adalah sikap mental untuk mempelajari secara terus menerus knowledge atau berlatih terus menerus untuk menguasai skill di bidang tertentu. Tentunya tugas kita sebagai pendidik disamping mengajar idealnya juga merencanakan kurikulum yang dapat meningkatkan knowledge, skill dan attitude siswa kita. Salam. 


Minggu, 20 Oktober 2013

Teori Kurikulum

Ada berbagai macam pendapat mengenai kurikulum, pendapat pertama sering dipahami bahwa kurikulum merupakan sekumpulan mata pelajaran (subject matter), pendapat ini tidak sepenuhnya salah, hal ini berakar pada pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan oleh orang tua dan para pakar di masa lalu kemudian dihimpun dan dipilah (dikelompokkan) sesuai dengan minat siswa dan diajarkan kepada siswa sesuai dengan periode belajar siswa (lihat pendapat Jean Piaget) . Kurikulum yang baik yang berdasar pada pendapat ini bisa membawa siswa kepada kemajuan pengetahuan dan konsep baru berdasar kepada pengalaman masa lampau. Untuk menjaga kualitas lulusan, setiap periode tertentu kurikulum harus dievaluasi oleh para pakar baik guru maupun industri dan melakukan revisi terhadap konten subject matter (mata pelajaran). 
Pendapat kedua mengenai kurikulum di lontarkan oleh Lattuca & Stark (Lattuca & Stark, 2009) di dalam buku yang berjudul Shapping The College Curriculum, Academic Plan in Context, yang memandang kurikulum sebagai rencana akademik (Academic Plan) dimana kurikulum dijabarkan melalui berbagai element seperti tujuan, konten (subject matter), sikap atau karakter yang ingin dibentuk, urutan atau proses dalam mencapai tujuan kurikulum, pembelajar yang spesifik (siswa yang sesuai dengan jenjang dan minat ), kegiatan dan jenis pembelajaran untuk mencapai tujuan dari kurikulum, instructional resources (materi dan setting lingkungan yang digunakan dalam pembelajaran), evaluasi, dan penyempurnaan kurikulum berdasdarkan kepada pengalaman dan evaluasi. Penjabaran dari element element Lattuca & Stark akan saya tulis dalam tulisan saya selanjutnya. Salam. 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Dunia anak sudah terenggut oleh Sekolah ?

Jean Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif. Piaget membagi menjadi 4 tahapan anak memahami dunianya : (dikutip dari wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif)

1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
    Periode awal ini berkaitan dengan mulai berkembangnya refleks dan awal kreatifitas

2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya

3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan—kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
     Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. 

Sekarang yang menjadi fokus kita adalah periode ke 3 yaitu periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun), periode ini mempunyai rentang 4 tahun, yang kalau kita terjemahkan ke usia sekolah yaitu usia anak kelas 1 - 5 sekolah dasar, penelitian Jean Piaget anak baru bisa berpikir sampai batas pengurutan, klasifikasi, decentring, reversibility, dan konservasi belum sampai ke dalam pemikiran abstrak, menalar secara logis dan menarik kesimpulan yang masuk ke dalam periode operasional formal (usia 11 tahun ke atas). Mari kita coba melihat buku kelas 1 SD Bahasa Indonesia dan Matematika di BSE (Buku Sekolah Elektronik) sudah ada materi melengkapi kalimat, menjelaskan isi gambar dan mengisi  .....- 3 = 2  membutuhkan penalaran logis yang belum masuk ke periode ke 3 teori Piaget dan dipaksa untuk masuk usia periode 4 (usia 11 tahun sampai dewasa), sehingga tidak jarang pekerjaan rumah anak (homework) seringkali "dibantu" oleh orangtuanya yang bisa diartikan kita mengkarbit anak kita sendiri agar lebih matang sebelum waktunya, yang nantinya berdampak kepada hilangnya masa kanak kanaknya, sehingga ketika anak benar benar masuk ke usia dewasa mempunyai tingkah seperti anak anak (tawuran, tidak menghormati orangtua dan guru , mudah menyerah, dsbnya) yang diakibatkan oleh kurangnya pendidikan karakter karena jam nya terenggut oleh pelajaran yang lain. Banyaknya pekerjaan rumah (homework) dan seringkali "dibantu" oleh orangtua juga menjadikan anak terbiasa mempunyai sikap mental yang mudah menyerah dan mengandalkan orang lain, bahkan sebagian orang tua ada yang sampai mencari jawaban dengan bantuan internet untuk mengerjakan PR anaknya, sehingga tidak jarang jawaban PR anak kelas 1-5  SD terlihat sangat bagus dan tidak mencerminkan jawaban anak seusianya.  Orang tua yang mempunyai anak yang bersekolah di sekolah yang mempunyai kurikulum seperti ini memang tidak bisa berbuat banyak, orang tua hanya bisa memberikan support dan dorongan kepada anak, pengalaman saya selama ini saya tidak memaksakan anak untuk selalu meraih nilai tertinggi, yang saya tekankan ke anak adalah PR mu kamu kerjakan sendiri sebisamu, membiasakan anak belajar 2 jam sehari dan mendampinginya. Biarlah anak menikmati periode ke 3 sampai dia puas sebelum masuk ke periode selanjutnya yaitu dewasa, sehingga anak benar benar mempunyai jiwa dan tanggungjawab orang dewasa ketika masuk periode dewasa.